Mengungkap Sejarah Batik: Jawa Pusat Peradaban Batik di Nusantara - Manfasramdi
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengungkap Sejarah Batik: Jawa Pusat Peradaban Batik di Nusantara

 

Seorang  Perempuan Jawa Tengah Menari dengan Berpakaian kain Batik khas Jawa, 1843.

(Auguste wahlen, 1843)


PULAU Jawa merupakan salah satu pusat peradaban yang sejak lama telah memberi warna sejarah Nusantara dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan baik seni, arsitektur, industri,  politik, dan dunia tekstil salah satunya adalah revolusi batik yang berkembang pesat di pulau ini. Batik di Indonesia mengalami banyak revolusi dari zaman ke zaman. Tak lekang oleh waktu, batik mempertahankan identitasnya di mata fashion dunia.

Sejarah batik tentu menarik perhatian kita untuk menggali histori perkembangan batik di Indonesia baik di masa lampau maupun di masa kini. Awal abad ke-21 banyak terdapat corak-corak khas batik yang dihasilkan dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada batik Jawa, ada batik Bali, ada batik Sumatera, ada batik Kalimantan, sampai ujung timur Indonesia ada batik Papua. Eksistensi kekuatan batik begitu kuat di bumi Indonesia, sehingga layak diakui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Takbenda masyarakat nusantara yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober.  

Kekuatan batik begitu merangsang para sejarawan untuk menelusuri jejak asal muasal batik tersebut. Dari dulu hingga saat ini, sejarah batik masih menjadi misteri. Konon ada yang bilang batik itu berasal dari India, berasal dari China, ada juga yang mengatakan berasal dari Nusantara alias merupakan produk asli pribumi Indonesia. 

Kain Batik produksi Jawa dan Sumatera Tempo Dulu


Prof. T. J. Bezemer dalam Indonesian Arts and Crafts (1931), menulis, “Batik juga, seperti halnya ikat, adalah sebuah proses meninggalkan sesuatu; namun bukan pada benangnya, melainkan pada tekstur tenunan yang sudah jadi. Ini adalah cara mendekorasi pakaian khas Jawa, meskipun ditemukan juga di beberapa pulau lain di Nusantara.”

Dr. J.L. A. Brandes menulis dalam  sebuah makalah di Journal of Batavia Society (1889), bahwa batik merupakan warisan leluhur orang Nusantara. Sependapat dengan Brandes, F. A. Sutjipto pun meyakini batik merupakan tradisi asli suku-suku yang mendiami Nusantara seperti orang Jawa, Papua, Toraja, Flores, dan suku-suku lainnya. Namun, berbeda pendapat Dr. Rouffaer dan Dr. Juynboll dalam The Art of the Batik in Dutch India and its History (1900) bahwa batik telah diperkenalkan oleh umat Hindu di Jawa alias berasal dari India.

Di sisi lain, bagi “J. W. van Nouhuys tentang batik lilin Toraja di Sulawesi Tengah membuka kemungkinan baru bahwa asal usul batik Indonesia dapat dibuktikan setelah penelitian lebih lanjut.” catat Bezeimer.

Perbedaan pendapat di kalangan para sejarawan ini telah mempersempit pemahaman dasar dan keyakinan kita akan batik Nusantara sehingga menjadi faktor penyebab adanya misteri batik.


Batik Warisan Budaya Austronesia

Pertanyaan yang sering muncul dalam benak kita adalah kapan orang Indonesia mulai mengenal batik? Untuk memahaminya, kita perlu melihat asal usul kata batik itu sendiri. Jika menelisik istilah kata batik, kata ini tidak berasal dari bahasa Sanskerta, Arab, China, Portugis, Spanyol maupun bahasa Belanda. Apa artinya? Itu artinya sebelum  masuknya peradaban-peradaban baru dari bangsa asing, masyarakat Indonesia  telah lama mengenal dunia perbatikan tradisional yang diwariskan dari leluhurnya di masa lampau.  

Menurut Teori of Taiwan, bahwa masyarakat penutur bahasa Austronesia sekitar 3.300 tahun yang lalu menduduki Filipina dan Indonesia dan secara bertahap melakukan pelayaran ke arah timur hingga kepulauan Salomon. Keberadaan masyarakat Austronesia lebih khusus di Indonesia mempraktekan “Seni Austronesia” yang dihadirkan dalam beragam karya-karya spektakulernya seperti keramik, ukiran-ukiran, praktek-praktek ritual, tato, sampai pada pembuatan-pembuatan tekstil dengan corak-corak ukiran yang khas. Bangsa Austronesia mula-mula sudah mengenal corak-corak atau motif-motif khas yang mereka aplikasikan pada gerabah tanah liat, bambu, kayu, batu, tubuh manusia, kulit kayu, anyaman tikar, sampai pada media kain dari kulit kayu. 

Etimologi Batik dari Bahasa Melayu-Polinesia (Austronesia)

Darimana asal muasal kata "batik"? kata batik berasal dari bahasa Melayu-Polinesia (Austronesia), bahasa yang dituturkan oleh sebagian besar masyarakat nusantara yang berasal dari berbagai etnik dan suku. 

Prof. Hendrik Kern (1833-1917) seorang ahli bahasa Sanskerta berkembangsaan Belanda, dalam bukunya De Fidjitaal vergeleken met hare verwanten in Indonesiƫ en Polynesie (1886), menguraikan beberapa kesamaan kata batik dalam bahasa Jawa dengan beberapa bahasa Austronesia lainnya. Dan mungkin dialah orang pertama yang melakukan ilmu perbandingan bahasa mengenai kata batik.

Etimologi kata batik telah ditelusuri pertama kali oleh Prof. H. Kern, dalam Over de Verhouding van het Nufoorsch tot de Maleisch-Polynesische talen (1917) ia menjelaskan beberapa kesamaan kosakata yang terdapat pada orang Biak Numfor (Papua), orang Jawa, dan orang Tombulu yaitu “fas, fa-sik, fa-tik”, “pan-tik”, “pa-tik”, “ba-tik”. Di sini terlihat adanya pola dasar kata tik mungkin merupakan kosakata Austronesia purba yang telah berkembang di kepulauan Asia Tetanggara dengan varian dialek lokal. Masyarakat Papua (Biak) di zaman lampau menyebut bentuk batik dengan sebutan “fasik” yang berasal dari kata “fas”:tulis dan sik (tik):garis.  Dialek lain dari bahasa Biak disebut “watik” atau “wasik” yang mirip dengan kata dalam bahasa Jawa “batik”.

Dalam bahasa Jawa “batik”, “mbatik” memiliki pengertian yang sama dengan bahasa-bahasa Austronesia lainya bahwa secara harfiah batik berarti tulis (nulis), menggambar, menggaris pada suatu media baik itu kain maupun media lukis lainya. Ini juga berlaku pada tato yaitu menggambar atau melukis pada tubuh manusia. Belakangan istilah asli ini mengalami pergeseran makna sehingga dianggap bahwa batik berarti menulis menggunakan alat chanting dan malam.   Ini dikuatkan juga oleh penelitian Gerret Pieter Rouffaer (1914) juga menjelaskan secara spesfik mengenai batik. Ia menulis, "Arti dasar dari kata Jawa “batik, ambatik” dengan demikian jelas dapat ditemukan dalam bahasa-bahasa daerah Kalimantan, Sulawesi Utara, Filipina, bahkan mungkin Fiji. Awalnya sama dengan 'mengetuk', 'menusuk', dalam penerapan tertuanya juga secara khusus berarti 'menato dengan spidol', yang tentunya merupakan ekspresi menggambar paling kuno di antara orang-orang telanjang yang ingin menghiasi ketelanjangan mereka; di antara suku-suku yang lebih maju konsep ini meluas dan "menusuk kulit" menjadi menggambar, melukis, dan menulis.Tetapi hanya di kalangan orang Jawa, di antara semua orang Malaio-Polinesia, konsep ini memperoleh makna yang sangat khusus".

Kejeniusan orang Austronesia dalam bidang seni tidak diragukan lagi. “Sebagai pembuat tekstil, orang Austronesia menguasai seni menanam, memintal, dan menenun kapas, menggunakan berbagai teknik pewarnaan untuk mewarnai dan membuat pola. Penenun digambarkan dalam perunggu prasejarah, menggunakan alat tenun tali belakang. Alat tenun seperti itu masih terlihat di wilayah Jawa yang lebih tradisional. Namun warisan tekstil kuno memiliki ekspresi terbesar di Jawa saat ini dalam dominasi batik, metode pewarnaan kain tahan lilin. Meskipun batik Jawa di istana dan di Pesisir Utara telah mencapai tingkat kecanggihan yang langka, batik ini masih terkait—melalui motif desain, bahan pewarna, dan ritual—dengan tradisi tekstil kuno.” Tulis Peter Schoppert dalam Java Style (2012).

Meskipun perlunya banyak penelitian mendalam tentang sejarah batik, tapi di sini tampak jelas bahwa masyarakat Austronesia memainkan peranan penting dalam meletakan fondasi perbatikan mula-mula di Nusantara. Apakah itu berarti masyarakat Austronesia tertutup terhadap masuknya peradaban bangsa asing? Tidak! Sebab dalam hubungannya dengan dunia luar, orang Austronesia di nusantara mengadopsi berbagai teknik-teknik baru dari bangsa lain dan saling bertukar ilmu.

Orang Nusantara memanfaatkan produk-produk berkualitas seperti kain katun dari India dan China dalam membuat batik yang lebih elegan dan berkualitas.

Batik di Masa Jawa Kuno

Jalur perdagangan asia tenggara telah mempertemukan beragam etnik di dunia melalui lintas perdagangan maritim. Masyarakat Austronesia dengan kepercayaan leluhur Animisme dan Dinasmi tidak bertahan lama, pengaruh indianisasi begitu terasa di kepulauan Nusantara. Lambat laut pengaruh budaya dalam bidang textil pun mengalami revolusi.

Para Wanita sedang membatik, 1900-an

Pada abad ke-5 sejarah Dinasti Liang (502-557 M) memberitahukan tentang masyarakat Nusantara. Dinasti Liang mencatat pada tahun 500-an bahwa, "Raja Bali memakai secarik kain sutra bermotif bunga yang membalut seluruh tubuhnya, bertopi keemasan agak tinggi dan dihiasi batu-batu mulia."—Liang Shu, Bab 5 dalam Tan Ta Sen, Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara, 2010, hal. 192

Kitab Tantri Kamandaka yang menyebutkan kain bermotif ranga (kain bermotif bunga). Kemungkinan besar, motif ranga inilah yang disebut dalam catatan dinasti Liang yang dipakai Raja Bali pada abad ke-5 tersebut.

Ornamen-ornamen batik juga ditemukan pada arca-arca dan relief di pulau Jawa pada candi Hindu dan Buddha. Prasasti Balitung (Mantyasih) tahun 827 M menyebut kain yang disebut “bebet”. Candi Prambanan yang telah selesai pada 856 M, memperlihatkan patung-patung yang memakai kain (selempang) dengan bermotif bunga. Ornamen-ornamen geometris banyak menghiasi relief dan arca yang hingga kini masih dapat ditemukan pada batik moderen. Selain itu, banyak dari prasasti-prasasti di Jawa menyebut tentang batik. Pada Prasasti Jurungan tahun 876 M disebutkan mengenai “wdihan” dari beberapa jenis warna yang merujuk pada pakaian atau kain dalam bahasa Jawa Kuno. Pada 992 M, Kerajaan di Jawa mengekspor kain ke Kaisar Tiongkok  sebagai upeti “Hadiah yang dikirim oleh raja berupa gading, mutiara, sutra yang disulam dengan bunga dan emas, sutra berbagai warna, kayu cendana dan barang katun dalam berbagai warna" (Groeneveldt 1960, pp. 63-78)


Seorang Wanita Jawa sedang mengerjakan kain batik, Serat Damar Wulan.  (British Library MSS Jav. 89, f. 5r)

Manuskrip Serat Damar Wulan, menjadi salah satu penunjuk tentang cara berpakaian masyarakat Jawa pada abad ke-13. Ilustrasi-ilustrasi gambar dari Serat Damar Wulan ini, memberikan pemahaman kepada kita mengenai mode para bangsawan yang mengenakan batik.   “Kisah fiktif ini terjadi pada masa kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1292–awal abad kelima belas) dan merinci eksploitasi dan petualangan pahlawan legendaris Damar Wulan, yang, dalam cerita tersebut, akan memerintah Majapahit sebagai Raja Brawijaya”.—Tulis Dick van der Mij dalam jurnal Sailing-Ships and Character Illustrations in Three Javanese Literary Poetic Manuscripts (2021).

Menurut Kitab Pararaton, Raden Wijaya yang memerintah pada 1293-1309 di Kerajaan Majapahit itu, menghadiahi para pejuang dengan memberikan kain bermotif gringsing. Begitupula catatan pada

“Menurut Kwan Hwie Liong, sejarawan dari Jakarta, salah seorang kapten Cheng Ho bernama Bi Nang Un pindah dari Champa ke Lasem, Jawa, pada 1413 bersama dengan istrinya Na Li Ni, putranya Bi Nang Na, putrinya Ni Nang Ti, dan kerabat lainnya. Istri dan anak perempuannya konon yang merintis  pembuatan kain batik di Lasem karena mereka memang pembuat kain batik yang bagus. Hingga dewasa ini, motif khusus China yang anggun seperti burung phoenix, naga, qilin, kupu-kupu, ikan serta flora dan fauna seperti bunga serunai, tumbuhan semak berbunga bagus, dan lain-lain, masih tetap populer dalam produksi bati di Jawa”.—Tulis Tan Ta Sen, dalam Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara, 2010, hal. 288


Potret Wanita Jawa sedang membatik, tahun 1900-an

Sebelum masuknya pengaruh China di Indonesia pada abad ke-15, masa Cheng Ho, masyarakat Jawa sudah berabad-abad lamanya menekuni pembuatan kain batik. Tapi, ketika masuknya motif-motif khas Tionghoa di Jawa khususnya di Lasem ini turut menambah koleksi motif batik nusantara yang beragam.

Batik Jawa terus mengalami perkembangan yang siknifikan dari masa ke masa karena berbagai arus budaya India, Arab, China, Eropa dan ini ikut mempengaruhi revolusi batik di pulau pulau Jawa. Pada abad ke-18, terdapat banyak informasi berupa catatan tertulis maupun lukisan gambar yang membuktikan eksistensi batik di pulau Jawa. Sayangnya, tidak banyak para sejarawan Eropa menjelaskan secara rinci tentang batik.

Awal tahun 1800-an, salah satu sumber tertulis yang cukup lengkap tentang deskripsi batik adalah catatan dari Thomas Stamford Raffles (1781-1826), seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda sejak 1811. Dia dianggap sebagai orang pertama yang menjelaskan cukup rinci tentang proses batik dan jenis-jenis batik di pulau Jawa. Raffles mencatat bahwa bahwa “setidaknya ada 30 profesi yang digeluti oleh masyarakat di pulau Jawa salah satunya adalah Toekang batik” atau dalam bahasa Belanda Katoendrukker.

Post a Comment for "Mengungkap Sejarah Batik: Jawa Pusat Peradaban Batik di Nusantara"