GEMPA BUMI DAN TSUNAMI DI PAPUA PADA MASA LAMPAU - Manfasramdi
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

GEMPA BUMI DAN TSUNAMI DI PAPUA PADA MASA LAMPAU

  


Pulau New Guinea (Papua dan Papua Nugini) sejak lampau kerap terjadi gempa bumi dan tsunami, peristiwa gempa bumi masih tersimpan dalam memori orang Papua yang diceritakan secara turun temurun. Artikel ini akan membahas salah satu suku di tanah Papua yang menyimpan cerita lisan mengenai gempa dan stunami khususnya yang terjadi di pulau Biak dan sekitarnya. 

Dalam cerita-cerita lokal orang Biak mereka mengisahkan tentang apa yang disebut Farbrub (Fardub, Farbrub), Sasya Beba. Kedua nama ini sering diterjemahkan menjadi ‘banjir besar; air bah’. Menurut seorang penulis dan pemerhati bahasa Biak, Bapak Malex Kmur, ia menjelaskan bahwa ’Fabrub berarti menyirami/menggenangi semua hingga tidak ada yang kering. Dari kata rub/ryub. Fabrub (dahsyat)’. Seorang pengukir kawakan Bapak Yermias Dawan juga menjelaskan bahwa ‘orang Biak mengenal kata fabrub dan kata-kata lain yang menyatakan ada ombak dan gelombang besar seperti nama sekeponi dan sekepuri.’ Kamus bahasa Numfor-Belanda (1947), kata “Fabrub” diterjemahkan kedalam bahasa Melayu berarti “Ampuhan [air], air bah”. Dalam bahasa Belanda, J. L. van Hasselt menerjemahkan Farbrub ini ke dalam bahasa Belanda menggunakan kata “Vloedgolf” dalam bahasa Indonesia berarti “gelombang pasang” atau tsunami.
 
Kata Tsunami, Oki Nami (津波) berasal dari bahasa Jepang, yang memaksudkan gelombang air besar atau gelombang pasang yang muncul dari dasar laut, akibat pergerakan bumi seperti gempa bumi. Gelombang tersebut sangat dasyat karena bisa menghancurkan dan merenggut kehidupan manusia, binatang maupun merusak benda-benda fisik lainnya. Ilustrasi gelombang Tsunami di Jepang yang dilukis pada 1830-1833 ini menjadi gambaran bagaimana dasyatnya kehancuran yang ditimbulkan oleh Tsunami. Lukisan itu diberi judul “Kanagawa Oki Nami-Ura” yang berarti “Gelombang Besar di Kanagawa”.

Kata Farbrub biasa disebut juga Farbrub, Fardup, Sasya Beba. Ini merujuk kepada gelombang atau banjir besar menutupi daerah pesisir bahkan hingga ke daerah dataran tinggi, kata Farbrub atau Sasya Beba (Syaub, Syap) memiliki pengertian yang sama seperti Tsunami. Dalam bahasa Biak-Numfor gempa disebut Tatawai atau juga disebut Saprop Ya Imer, Saprop Ya Iwawa ini lebih merujuk kepada gempa bumi. Sejak dahulu kala, gempa bumi dan tsunami bukan hal baru bagi masyarakat berkebudayaan Biak-Numfor. Sehingga bagi mereka fenomena alam atau bencana demikian memiliki nama khusus yang telah diketahui sejak lampau. Namun pemahaman mereka tentang keadaan alam masih bergantung pada mitos bahwa gempa bumi itu terjadi akibat bergeraknya ular naga (korben, tatewai). Lihat buku F. C. Kamma, jilid 1, Ajaib di Mata Kita, 1981, hlm. 205, Par. 2. Istilah sasya beba ini juga ditemukan pada sebuah nama di kampung Benggor, Biak Barat. Kali itu bernama “Syausbeba”.
 
Adapun beberapa marga yang memiliki kisah Farbrub seperti Keret Arwam, Keret Fairyo, Keret Kbarek, Keret Kmur, Keret Kurni, Keret Mandowen, Keret Mansnandifu, Keret Masosendifu, Keret Ronsumbre, Keret Rumawak, Keret Simbiak, Keret Wakum, maupun terdapat pada keret-keret suku Biak lainnya.

Terjadinya peristiwa mega stunami (Farbrub) kemungkinan terjadi dalam periode atau masa ±1370-1396 Masehi. Menariknya, peristiwa ini bukan hanya terjadi di pulau Biak, tapi pada periode tahun 1300-an terjadi juga bencana alam atau gempa bumi di pulau Jawa sebagaimana dalam laporan Nagara Kertagama yang mengisahkan bahwa “pada tahun 1334 M terjadi bencana alam yang hebat sekali, gempa, bumi berguncang” (Dukut Imam Widodo, 2013:99). Dan seperti  penelitian yang dilakukan di Aceh bahwa pernah terjadi “peristiwa tsunami pada akhir tahun 1300-an dan pertengahan tahun 1400-an telah meluluhlantakkan dua periode kerajaan di Aceh” (Ahmad Arif, 2018:76). Bencana-bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami di wilayah Nusantara maupun di belahan bumi lain sering terjadi pada periode waktu yang bersamaan. 
 
Ketika peristiwa stunami ±1370-1396 itu meluluhlantakan pulau Biak, menurut cerita lisan bahwa banyak sekali korban jiwa dan setelah berakhirnya peristiwa itu, muncul lagi kelaparan atau yang disebut andobai (basbiser). Berbagai benca alam ini membuat beberapa di antara keluarga-keluarga harus bermigrasi ke tempat lain di pesisir tanah Papua. Setelah peristiwa dasyat yang menghancurkan ini berlalu tampaknya ada lagi peristiwa stunami dan gempa di tahun 1500-1600-an. Pada masa itu, terjadi juga hal yang sama. Namun, disini ceritanya masih bersifat cerita tutur. 

Catatan tertulis mengenai gempa dan tsunami yang terjadi di Papua mulai tercatat pada pertengahan 1800-an. Gempa bumi dan tsunami yang sempat dicatat oleh seorang zendeling J. G. Geissler dan Otterspoor, terjadi di Mansinam dan Doreh  pada pukul 12:30 malam, tanggal 23 Mei 1864. Geissler merasakan langsung selama tiga sampai empat menit goncangan gempa. Gelombang yang menghancurkan penduduk Mansinam dan doreh. Rumah-rumah terseret gelombang, semuanya roboh; orang-orang berupaya menyelamatkan diri dari bencana itu, ada yang menaiki papan, balok dan berenang mencapai bibir pantai agar selamat. Sejarawan F. S. A. De Clercq juga menulis bahwa  ‘memang gempa bumi atau yang disebut tatawai memang terjadi, ia juga meneguhkan bahwa peristiwa 1864 di Doreri menyebabkan rumah runtuh, pohon-pohon tumbang, dan banyak orang meninggal, dan tampaknya efek guncangan ini sampai ke kepulauan Biak. Selain itu, di Waropen terjadi juga gempa bumi pada bulan April 1873’ (De Clercq, 1893:124, 177; Dr. F.C. Kamma, 1981:206).

Salah satu bukti yang paling meyakinkan kita bahwa di zaman dulu pernah terjadi gempa dan tsunami, yaitu adanya pola berulang yang terjadi berabad-abad kemudian pada perisitwa 17 Februari 1996 di pulau Biak. Kita pasti akan mengingat betul peristiwanya, khususnya keret Mansnandifu yang mengalaminya sendiri. Dokumen foto di Biak Utara di bawah  ini menjadi saksi bisu, betapa parahnya gempa bumi pada tahun itu.  


Penulis sendiri mengalami gempa di Biak ini ketika berumur 8 tahun.  Ketika itu orang dengan panik, dan terdengar teriakan, tangisan ada dimana-mana sambil berlari dan mencari dataran tinggi. Gempa dengan kekuatan 8,2 dan intensitas Mercalli VIII masuk kategori Parah. Menurut laporan bahwa tsunami yang ditimbulkan mencapai 7 meter (23 ft). Gempa ini menewaskan 166 orang, 423 luka-luka dan 5.090 orang kehilangan tempat tinggal.  Generasi Mansnandifu telah mengalami langsung bencana alam yang menimpa pulau Biak pada tahun 1996. Namun, 390 tahun yang lalu bencana alam yang disebut Tatawai dan Farbrub  juga menimpa pulau Biak. Bencana alam itu, masih terus dikisahkan oleh orang Biak khususnya marga-marga yang pernah mengalaminya.

Selain tahun 1996, ada banyak sekali rentetan kejadian gempa-gempa dan tsunami yang terjadi Papua dan sekitarnya. Sewaktu saya menulis Bagian 1 buku ini, yang berkaitan erat dengan peristiwa bencana alam, hari Senin, 21 November 2022, ketika sedang tidur pada malam hari terjadi gempa kecil Biak, keesokan harinya saya membaca berita, ternyata gempa mengguncang kepulauan Yapen dengan kekuatan magnitudo (M) 5,1, pukul 21:16:26 WIB. Dan pada hari yang sama terjadi juga gempa bumi di Cianjur, Jawa di pulau Jawa, dengan kekuatan magnitudo (M) 5, 6. Guncangan gempa di Cianjur ini menyebabkan 56 orang meninggal dunia, 700-an orang luka-luka.   Peristiwa gempa bumi terjadi dalam waktu yang sama, ini menguatkan catatan sejarah dan kisah cerita lisan bahwa memang dulu pernah terjadi gempa dan tsunami dasyat di kepulauan Biak Numfor pada sekitar akhir tahun 1300-an. 

Post a Comment for "GEMPA BUMI DAN TSUNAMI DI PAPUA PADA MASA LAMPAU"